Pangdam III Siliwangi Siapkan Pasukan Hadapi Musim Hujan

Oktober 26, 2017 Add Comment
Bencana, TMMD. Pangdam III/Siliwangi  Mayjen TNI M. Herindra menyatakan akan menyiapkan pasukannya untuk bersiaga terhadap bencana pada musim penghujan sekarang.  Pasukan tersebut akan langsung terjun mana kala di Jawa Barat terjadi bencana alam.
Hal itu disampaikan Pangdam III/Siliwangi saat menutup kegiatan Tentara Manunggal Membangun Dessadi Kecamatan Sukasari, Sumedang. “Dan yang akan siap siaga tersebut, termasuk Babinsa yang berada di desa-desa,” ujarnya.
Menurut Pangdam, sejumlah daerah di musim hujan ini, berpotensi terjadi bencana, baik longsor, banjir maupun yang lainnya. Karena itulah, pihaknya sudah menginstruksikan jajarannya untuk siap siaga, untuk menjaga Jawa Barat dari kemungkinan terjadinya bencana alam.
Khusus terhadap pelaksanaan TMMD di Desa Sukasari Sumedang, Panglima mengaku memberikan apresiasi yang besar kepada Kodim 0610 dan semua anggota yang terlibat termasup Pemda Sumedang.  Dia berharap,  sinergitas tersebut tetap berjalan dengan baik hingga bisa mempercepat pembangunan di daerah. “Mudah-mudahan kemanunggalan TNI dengan rakyat semakin erat,” ujarnya.

Menurut informasi, pelaksanaan TMMD di Sukasari yang berlangsung selama satu bulan tersebut  dinilai berhasil.  Selain bisa membangun jembatan dan membuka akses jalan warga, TMMD juga bisa memberikan wawasan kebangsaan kepada masyarakat. 

Desa Genteng, Desa Dengan Pesawahan Luas

Oktober 18, 2017 Add Comment

Desa Genteng merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang. Lokasinya berada di bagian ujung utara wilayah kecamatan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung, Kabupaten Subang dan Kecamatan Tanjungsari. Wilayahnya mencakup wilayah perbukitan di kaki Gunung Manglayang bagian timur dan utara.

Berdasarkan catatan, Desa Ganteng merupakan sebuah desa induk. Sebelumnya, Desa Genteng mencakup juga wilayah Desa Sukasari ketika masih berada di cakupan Kecamatan Tanjungsari. Kemudian pada tahun 1980, Desa Genteng dimekarkan menjadi dua desa yaitu Desa Genteng dan Desa Sukasari. Pemekaran desa ini berlandaskan pada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 993/PM.122-Pem/Sk/1980 tertanggal 2 Juni 1980. Setelah pemekaran, Desa Genteng memiliki cakupan wilayah di bagian utara bekas desa induknya. Dan ketika Kecamatan Tanjungsari dimekarkan menjadi Kecamatan Tanjungsari dan Kecamatan Sukasari, Desa Genteng menjadi salah satu wilayah yang mengikuti kecamatan pemekaran, Kecamatan Sukasari.

Berdasarkan data Kecamatan Sukasari dalam Angka tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang, pada tahun 2013 Desa Genteng memiliki status sebagai pedesaan dengan klasifikasi sebagai desa swadaya. Secara geografis, wilayah Desa Genteng berupa lahan lereng perbukitan dengan ketinggian wilayah dimana kantor desa berlokasi 1.185 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, wilayah Desa Genteng dibatasi oleh wilayah-wilayah sebagai berikut: Kabupaten Subang dan Desa Kadakajaya Kecamatan Tanjungsari di sebelah utara, Desa Kadakajaya Kecamatan Tanjungsari di sebelah timurnya, Desa Sukasari, Desa Mekarsari dan Desa Banyuresmi di sebelah selatan, serta Desa Banyuresmi dan Kabupaten Bandung di sebelah baratnya. Sementara secara administratif, wilayah Desa Genteng terbagi ke dalam 19 RW dan 76 RT.

Untuk luas wilayahnya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang sama, pada tahun 2013 Desa Genteng mmeiliki luas wilayah sebesar 1.371 hektar. Sehingga Desa Genteng memiliki cakupan wilayah yang cukup luas jika dibandingkan dengan luas wilayah desa lainnya. Desa Genteng hanya kalah luas oleh Desa Banyuresmi. Lahannya terbagi ke dalam tiga jenis yaitu lahan pesawahan, lahan pertanian bukan pesawahan dan lahan non-pertanian. Luasan lahan berupa pesawahan mencakup wilayah seluas 134 hektar, dan lahan pertanian non-pesawahan seluas 1.132 hektar. Sisanya seluas 105 hektar dipergunakan untuk keperluan non-pertanian seperti lahan pemukiman dan pekarangan, lahan fasilitas umum dan yang lainnya.

Jika dilihat menggunakan Google Maps, wilayah Desa Genteng berada di wilayah ketinggian sekitar kaki Gunung Manglayang sebelah timur dan ke arah utara. Topografinya berupa perbukitan bercampur dengan lereng. Dimana bagian utara umumnya memiliki ketinggian lebih tinggi dibandingkan dengan bagian selatannya yang memiliki ketinggian setidaknya 1.000 meter di atas permukaan laut. Bagian utaranya merupakan kawasan kehutanan sampai ke bagian tengah. Bagian tengah sampai ke bagian selatannya merupakan kawasan pertanian yang bercampur dengan kawasan pemukiman. Lahan pertaniannya didominasi oleh lahan ladang dan lahan perkebunan. Untuk lahan pesawahannya umumnya berada di dekat aliran sungai dan aliran irigasi.

Untuk jumlah penduduknya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang sama, pada tahun 2013 Desa Genteng dihuni penduduk sebanyak 6.042 orang. Dengan komposisi sebanyak 3.044 orang berjenis kelamin laki-laki ditambah 2.998 orang berjenis kelamin perempuan. Sementara kepadatan penduduknya, untuk tiap kilometer persegi luas wilayah Desa Genteng dihuni penduduk dengan rata-rata sebanyak 441 orang.

Dan terkait mata pencaharian penduduknya, sebagian besar penduduk Desa Genteng bekerja di sektor pertanian baik sebagai petani maupun buruh tani. Sebagian kecil sisanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil atau TNI, sebagai pedagang, wiraswasta dan sebagai karyawan.

Sektor pertanian di Desa Genteng didominasi oleh lahan ladang yang ditanami berbagai jenis sayuran. Hal ini terkait dengan kondisi lahannya berada di ketinggian dengan suhu udara yang sejuk. Berbagai jenis sayur-sayuran dihasilkan oleh lahan pertanian di samping padi yang dihasilkan lahan pesawahannya.

Untuk lahan pesawahan di Desa Genteng sebagian besar masih menggunakan sistem pengairan non-teknis. Namun demikian, lahan pesawahannya memiliki produktivitas yang bagus dalam menghasilkan produk utama berupa padi. Selain menghasilkan padi, dihasilkan juga berbagai jenis produk palawija seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kacang tanah. Padi juga dihasilkan oleh lahan huma berupa padi gogo. Lahan perkebunannya menghasilkan berbagai jenis buah-buahan seperti alpukat, belimbing, jambu biji, pepaya, mangga dan melinjo. Dan produksi sayur-sayurannya dari berbagai jenis seperti kubis, tomat, cabai merah, bawang daun, kentang dan kacang merah. Kemudian yang produk lainnya yang dihasilkan sebagian penduduk di Desa Genteng adalah tembakau yang sudah jadi yang dikenal dengan tambakau mole atau tembakau hitam.

Baca juga:

Kampung Tembakau

Satu lagi sektor yang menjadi mata pencaharian sebagian penduduk Desa Genteng adalah kerajinan dari bambu. Dengan sumber daya alam melimpah berupa bambu, tidak mengherankan jika sebagian penduduk Desa Genteng mengolah bambu menjadi berbagai produk kerajinan. Produk yang dihasilkannya diantaranya adalah boboko (bakul), nyiru (ampan), hihid (kipas), bilik (tirai), tusuk sate, ayakan (saringan), dingkul (tempat menyimpan perkakas), rarancang (kerangka layang-layang), dan segala macam perkakas rumah tangga berbahan dasar bambu.

Terkait seni budaya, di sebagian wilayah Desa Genteng terdapat budaya yang masih terpelihara. Salah satunya adalah hajat lembur yang dilakukan setahun sekali ketika berada di bulan Safar.


Basa sumber asli:

Desa Genteng

Tembakau, Potensi Ekonomi Sukasari

Oktober 17, 2017 Add Comment
Kampung, Bako. Sukasari memiliki potensi besar di bidang pertanian. Salahsatunya  dalam tembakau. Keberadaan sebuah kampung yang dijuluki Kampung Bako (tembakau) menjadi bukti bahwa Sukasari berpotensi dalam tembakau.
Menurut keterangan, hampir seluruh warga yang berdomisili di Kampung Bako berprofesi sebagai pengrajin tembakau. Tembakaunya sendiri, selain merupakan hasil tanam di wilayah Sukasari dan Tanjungsari, umumnya merupakan hasil tanam di daerah Darmawangi Sumedang, baik hasil tanam sendiri maupun hasil membeli.
Produksi tembakau di wilayah ini, sudah  memiliki pelanggan tersendiri di Bandung, Jakarta, Surabaya, Kota Banjar dan lainnya. Itulah sebabnya, tembakau dari Sukasari, umumnya tidak pernah tersisa di gudang atau rumah pengrajinnya, kecuali sengaja disimpan menunggu harga bagus.
Setelah proses pembuatan tembakau selesai, tembakau biasanya langsung diambil pelanggannya seperti oleh pengusaha tembakau Padud dari Kota Banjar. Namun, di luar itu, ada juga pengrajin yang mulai mengolah tembakau menjadi rokok walau jumlahnya terbatas, atau dibungkus kecil untuk pasar berbagai daerah di Jawa Barat dan luar Jawa.
Di waktu tetentu, pengrajin terbakau Sukasari ini sengaja menjual tembakaunya di Pasar Tembakau Tanjungsari,  pada hari Selasa dan Sabtu. Di pasar ini, pembeli dari luar kota, biasanya sudah menunggu pada hari pasar tersebut.
Jauh ke belakang, konon, penduduk Sukasari mulai hidup dari tembakau tersebut  sejak ratusan tahun lalu, dan berkaitan erat dengan “omongan” seorang Bupati Sumedang, bahwa jika warga Sukasari ingin hidup senang, yang terbaik, harus mengolah bako, tembakau.
Itulah sebabnya, warga Desa Sukasari sampai sekarang hidup dari mengolah tembakau. Dan terbukti, yang setia dengan pekerjaannya mengolah tembakau, hidupnya cukup makmur. (*)





Desa di Kecamatan Sukasari

Oktober 16, 2017 Add Comment

pemandangan alam di sukasari/net
Desa, Tani.-  Kecamatan Sukasari, secara administrative terdiri dari 7 desa yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Tanjungsari.
Desa tersebut adalah Desa Sukarapih, Sukasari, Mekarsari, Sindangsari, Nanggerang, Banyuresmi dan Desa Genteng. Desa-desa tersebut membawahi  tidak kurang dari 37 Dusun, 61 RW, dan 368 RT.
Jumlah peduduk di Kecamatan Sukasari, menurut catatan beberapa tahun lalu sebanyak 30587 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 15.527 Jiwa, dan perempuan sebanyak 15.060 Jiwa dan kepadatan penduduk pada bulan Maret tahun 2010 tercatat sebesar 6 jiwa/km2.  Adapun mata pecaharian penduduk di Kecamatan Sukasari mayoritas bergerak dalam usaha pertanian yakni sebesar 60 %, sedangkan selebihnya yakni sebesar 40 % bermata pencaharian nonpertanian.
Data lain, secara geografis, kecamatan  ini terletak di sebelah barat Kabupaten Sumedang, dengan batas-batas wilayah:
Sebelah Utara: Kecamatan Rancakalong
Sebelah Selatan: Kecamatan Tanjungsari
Sebelah Timur: Kecamatan Tanjungsari

Sebelah Barat: Kecamatan Jatinangor (*)

Sukasari, dari Kelurahan Hingga Kecamatam

Oktober 16, 2017 Add Comment
Kantor Desa Genteng di Sukasari/Net
Kelurahan, Perda, Sukasari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.  

Semula, Sukasari hanya sebuah kelurahan, sebagai perpanjangan tangan Kecamatan Tanjungsari. Namun dalam perkembangannya,  Sukasari resmi menjadi kecamatan. Perubahan statusnya tersebut berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang nomor 51 Tahun 2000 tentang pembentukan kecamatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang, dan ditetapkan dalam Keputusan Bupati Sumedang Nomor 07 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan di Kabupaten Sumedang.

Kecamatan Sukasari  berdasarkan data yang ada, seluas  1.956.527 Ha  dengan kondisi berbukit-bukit dan kualitas tanahnya relatif subur. Berada pada ketinggian antara 750-1.200 m di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 180C sampai dengan 220C, Sukasari termasuk wilayah yang sejuk.
Posisi geografis tersebut , menempatkan Kecamatan Sukasari sebagai wilayah yang memiliki potensi pertanian dan peternakan dengan didukung oleh aktivitas jasa dan perdagangan. Potensi yang besar tersebut dianggap memberikan kontribusi yang tidak kecil dalam pengembangan agrobisnis sebagai salah satu pilar perwujudan Visi Kabupaten Sumedang.

Komposisi penggunaan tanah di wilayah Kecamatan Sukasari sebagian besar dimanfaatkan sebagai areal pertanian baik lahan basah maupun kebun yakni sebesar 70% dari luas wilayah, sedangkan selebihnya sebesar 30% digunakan untuk jenis pemanfaatan lainnya. (*)

Lihat Suumber Asli:

TMMD Bangun Jalan Desa di Sukasari

Oktober 12, 2017 Add Comment

TMMD, Bangun Jalan. Pembangunan pembukaan jalan desa dan jembatan di Desa Sukarapih Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang, saat ini masuk tahap pengecoran. Pembangunannya dikerjakan TNI, warga dengan dibantu Polri dalam kegiatan TMMD ke 100.
Menurut Didin, seorang warga, sebelumnya,  jalan penghubung Desa Sukarapih, Sukasari dan Margalaksana ini  tidak dapat diakses kendaraan. Selain jalannya sempit, juga karena ada jembatan bambu yang membahayakan bagi kendaraan
“Namun dengan kegiatan ini, jalan sepanjang 610 km itu nantinya akan bisa dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Jalannya akan diperlebar hingga 6 meter, jembatan pun akan dibuat permanen,” ujarnya.
Demgan selesainya jalan tersebut, warga di tiga desa dapat memotong atau mengurangi  perjalanan hinhgga 5 kilometer jika hendak ke pusat kota Tanjungsari, termasuk bila hendak ke Pasar Tanjungsari dan jalan nasional.
Sementara itu, ketika meninjau pelaksaan TMMD di Sukarapih, Brigjen Purnawan Widi Andaru, Perwira Staf Khusus Kasad menyampaikan apresiasi yang besar terhadap anak buahnya, warga dan Polri. “Saya haeapkan, pembangunan jalan ini, nantinya bisa dirasakan manfaatnya oleh warga,” harapnya/
Pembangunan jalan desa ini merupakan perwujudan atau kegiatan fisik dalam kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa ke 100 tingkat Kodim 0610. (*)