Kampung, Bako. Sukasari memiliki potensi besar di bidang
pertanian. Salahsatunya dalam tembakau.
Keberadaan sebuah kampung yang dijuluki Kampung Bako (tembakau) menjadi bukti
bahwa Sukasari berpotensi dalam tembakau.
Menurut keterangan, hampir seluruh warga yang berdomisili di
Kampung Bako berprofesi sebagai pengrajin tembakau. Tembakaunya sendiri, selain
merupakan hasil tanam di wilayah Sukasari dan Tanjungsari, umumnya merupakan
hasil tanam di daerah Darmawangi Sumedang, baik hasil tanam sendiri maupun
hasil membeli.
Produksi tembakau di wilayah ini, sudah memiliki pelanggan tersendiri di Bandung,
Jakarta, Surabaya, Kota Banjar dan lainnya. Itulah sebabnya, tembakau dari
Sukasari, umumnya tidak pernah tersisa di gudang atau rumah pengrajinnya,
kecuali sengaja disimpan menunggu harga bagus.
Setelah proses pembuatan tembakau selesai, tembakau biasanya
langsung diambil pelanggannya seperti oleh pengusaha tembakau Padud dari Kota
Banjar. Namun, di luar itu, ada juga pengrajin yang mulai mengolah tembakau
menjadi rokok walau jumlahnya terbatas, atau dibungkus kecil untuk pasar
berbagai daerah di Jawa Barat dan luar Jawa.
Di waktu tetentu, pengrajin terbakau Sukasari ini sengaja
menjual tembakaunya di Pasar Tembakau Tanjungsari, pada hari Selasa dan Sabtu. Di pasar ini,
pembeli dari luar kota, biasanya sudah menunggu pada hari pasar tersebut.
Jauh ke belakang, konon, penduduk Sukasari mulai hidup dari
tembakau tersebut sejak ratusan tahun
lalu, dan berkaitan erat dengan “omongan” seorang Bupati Sumedang, bahwa jika
warga Sukasari ingin hidup senang, yang terbaik, harus mengolah bako, tembakau.
Itulah sebabnya, warga Desa Sukasari sampai sekarang hidup
dari mengolah tembakau. Dan terbukti, yang setia dengan pekerjaannya mengolah
tembakau, hidupnya cukup makmur. (*)
